Nina Mariana

Blog Seputar Kesehatan, Obat & Terapi

 


Apakah Minum Kopi dan Teh Berisiko Osteoporosis? Ini Faktanya

Pecinta minuman kopi dan teh, ada fakta terbaru yang menarik untuk diketahui. Dari metaanalisis Wopei Li dkk (kumpulan 14 penelitian tentang kopi, teh, dan osteoporosis) menyimpulkan suatu hal yang menggembirakan bagi pecinta minuman kopi atau teh.



Osteoporosis adalah kelainan metabolisme tulang yang ditandai dengan berkurangnya kepadatan tulang dan struktur tulang yang terganggu, sehingga menyebabkan peningkatan kerapuhan dan risiko patah tulang. Osteoporosis dapat diketahui dari pemeriksaan Bone mineral density (BMD). Kita telah ketahui bahwa faktor lingkungan dan gaya hidup, termasuk kekurangan vitamin D, merokok, konsumsi alkohol, asupan kalsium yang kurang, pola makan tinggi protein, dan kurangnya aktivitas fisik, berkontribusi terhadap perkembangan osteoporosis. Selain itu, terdapat faktor jenis kelamin. Wanita memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dibanding laki-laki, terutama setelah menopause, karena perubahan hormonal dan tulang yang lebih kecil dan tipis. 



Sebenarnya, faktor minuman kopi dan teh dalam menimbulkan osteoporosis masih kontroversial. Diketahui dari penelitian sebelumnya ( Berman dkk tahun 2022) bahwa kafein pada kopi dapat memperburuk osteoporosis dan berisiko patah tulang, sehingga diperlukan penelitian mengenai dampaknya. Sementara itu, kopi dan teh merupakan sumber antioksidan dan mempunyai manfaat kesehatan contohnya efek anti-inflamasi dan anti-kanker.



Kopi juga mengandung senyawa bioaktif lain yaitu flavonoid dan kalium, yang memiliki efek positif pada tulang melalui sifat anti-inflamasi dan antioksidannya. Kopi kaya akan senyawa fenolik dengan potensi osteoprotektif, termasuk asam klorogenat (CGA). Polifenol dalam CGA dapat merangsang  osteoblas melalui jalur sinyal BMP-2/Wnt dan menghambat genesis osteoklas dengan mengatur RANKL/OPG. Hasil reaksi Maillard (MRP) yang terbentuk selama pemanggangan kopi menunjukkan sifat antioksidan, antibakteri, dan anti-inflamasi yang kuat. Namun, hasil akhir glikasi lanjutan dari reaksi MRP dapat mengurangi sifat mekanis tulang dan mengganggu metabolisme tulang, dan punya potensi memengaruhi kualitas tulang. Meskipun senyawa-senyawa ini berpotensi memberikan efek sinergis dalam mengurangi risiko osteoporosis, mekanisme spesifiknya masih perlu telaah lebih lanjut.



Kumpulan 14 penelitian ini (metanalisis) dengan  melibatkan total sebanyak 562.838 partisipan berusia ≥ 40 tahun dan semua penelitian menggunakan kriteria diagnostik yang jelas untuk osteoporosis. Temuannya adalah peserta yang rutin mengonsumsi kopi dan teh memiliki risiko lebih rendah terkena osteoporosis dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsinya. Partisipan dengan kisaran asupan sekitar satu cangkir kopi per hari dan teh sekitar empat kali seminggu, dampak perlindungan terhadap osteoporosis lebih nyata. Temuan ini mendukung gagasan bahwa konsumsi kopi dan teh dalam jumlah sedang sebagai bagian dari diet seimbang dapat mencegah osteoporosis.



Namun, penting untuk dicatat bahwa kesimpulan dari metaanalisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dalam 14 penelitian. Hubungan yang sebenarnya mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti perbedaan genetik individu, pilihan gaya hidup, dan pola makan. 



Dalam 14 penelitian tersebut juga tidak menyebutkan jenis kopi, robusta atau arabika, dan bentuk penyajiannya seperti apa, espresso atau filter coffee. Selain itu, penelitian-penelitian tersebut tidak meneliti berbagai minuman teh, termasuk teh hijau, teh hitam, atau teh oolong, yang kaya akan senyawa bermanfaat dan mungkin memiliki efek terkait osteoporosis.

Apakah Minum Kopi dan Teh Berisiko Osteoporosis? Ini Faktanya


Sumber:

1. Wopei Li et al. Coffee and tea consumption on the risk of osteoporosis: a meta-analysis, Fnut, 2025

2. Berman, et al. The effects of caffeine on bone mineral density and fracture risk. Osteoporos Int J, 2022. 


Tidak ada komentar: